Teman Sejiwa

0
144
Spread the love

Sepintas ini hanyalah sebuah foto biasa, tak ada yang spesial selain background yang pernah jadi bagian dari Seven Wonders dan hampir kebanyakan orang juga punya foto seperti ini 😄. Tapi sesungguhnya di balik foto dua perempuan ini banyak kisah haqiqi yang tertoreh, kisah yang tidak hanya sekedar teman jalan, teman nongkrong, teman curhat ha hi dan lain sebagai nya, kisah yang membuktikan bahwa saat kita memiliki kawan setia maka apapun tingkah dunia selalu bisa kita hadapi bersama, kisah yang menunjukkan bahwa seorang teman sejati itu selalu Tuhan siapkan kan untuk setiap manusia dalam menjalani masa sulit nya.

Adalah dia Imro’atul Kholifah, adik sepupu yang juga jadi teman untuk segala hal, dia lahir 6 tahun lebih muda dari ku, aku ikut mengasuh nya saat ia masih balita karena ibu dan bapak nya sibuk bekerja, ya kita sudah menjadi teman bermain sejak kecil sekali dan hampir setiap hari kita habiskan waktu bersama, memandikan nya, menyuapinya, mengganti baju nya :”).

Hingga suatu ketika takdir mengharuskan ku meninggalkan kampung halaman untuk mengikuti Ayah dan bersekolah di tanah pasundan. Meski itu hampir 20 tahun yang lalu aku masih ingat betul raut wajah nya yang menangis membuat mata-nya yang sipit semakin tak kelihatan.

Di usia 3 tahun dia sudah mengerti artinya kehilangan, menangis meronta ingin ikut, segala baju sudah kita siapkan berdua dan masuk ke dalam tas ah apalah kita dulu kakak beradik yang terlalu percaya diri bahwa akan mendapat ijin, dan ternyata jawaban yang diberi sudah jelas, jawaban yang membuat nya menangis. Dibawalah ia oleh bapak dan ibu nya ke tempat dimana mereka bekerja, supaya tidak tahu kepergian ku dan keluarga. Sejak peristiwa itu 10 tahun aku tak berjumpa lagi tapi kenangan itu masih kuat dalam ingatan.

Akhirnya waktu berbaik hati mengijinkan kami bersua lagi, ah 10 tahun ya, ini membuat ku agak sedikit kaget ia telah berubah adik kecil ku sudah besar lebih pendiam dibanding dulu namun sangat santun dan terampil melakukan pekerjaan rumah, dia kini memiliki kemampuan jempolan sebagai seorang anak perempuan, sangat mandiri dan terampil. Waktu semakin cepat berlalu puji syukur kpd Allah yang kini memberi ku kemampuan untuk sering2 pulang kampung, ya untuk bisa bermain lagi bersama nya, banyak jalan yang sudah kita ukur, dari puncak tinggi di gunung hingga jalanan berliku ke ujung laut, dan masih tetap setia untuk selalu menjemput dan mengantar ku kembali ke stasiun hingga kini

Makananan favorit kita selama bermain dan jalan jalan kemana aja kalo ga soto ayam ya kebab, kok bisa juga satu selera ya sama juga dengan baju selalu pengen nya sama, ah tapi emang dia hobi nya ngikut aja sih, de power of kakak kali ya nama-nya juga adik 😂. Tapi barangkali aku yang berhutang budi paling banyak kepada nya, entahlah hati nya itu terbuat dari apa, hutang ku pada nya tak bisa aku ganti dengan gunungan emas sekalipun, karena memang waktu dan kepedulian yang tulus itu tak bisa di beli se kaya dan setinggi apapun jabatan seseorang, ia hanya bisa dikeluarkan oleh mereka yang selalu menjaga hati dari niat menyakiti.

Aku pernah berpikir apa ada manusia yang setulus Ibuk kepada ku, aku pikir hanya Ibuk ternyata aku sangat beruntung diberi lagi satu orang yang seperti Ibuk, yang kepedulianya terhadap ku sampai urusan jarum pentul pengait kerudung, dari sehelai benang yang keluar dari baju, ah Allah memang terlampau baik kepada ku. Kita memang tak terlahir dari rahim yang sama tapi entah mengapa rasanya seperti saudara kandung saja. Pertemanan kita kuat saling mendukung dan mengingatkan, saling menumbuhkan harapan atas cita cita yang ingin di capai, saling berbagi energi positif, saling mengingatkan ketika lalai dan terlena dan juga tetap saling bertindak konyol.

Bagi ku, teman sesungguhnya seperti itu dia tak hanya menjadi sandaran terdekat untuk membagi bahagia dan duka lara tapi juga sebagai pengingat yang jika aku masih juga tak sadar maka dia tak segan untuk “menampar” sikap ku dengan teguranya, ya teman seperti itu yang aku butuh yang tidak hanya memberi ku angin angin untuk terus “tertidur” dan membiarkan ku ditinggal oleh waktu

Hal yang paling tak kan pernah bisa aku lupakan seumur hidup dari nya adalah, saat kehendak Allah menjadikan aku seorang diri jauh dari Ibuk, Ayah, Kakak, Adik dan Suami yang menyayangi di saat aku hamil besar, dan menanti waktu untuk melahirkan anak pertama ku. Sebaik apapun rencana kita, pada akhir nya kita akan kalah dari rencana Allah. Semua terjebak di perjalanan, Ibuk dan Ayah di Jakarta, Suami di Surabaya dan posisi ku ada di Surakarta, aku hanya sendiri saat mendekati waktu melahirkan, ia mengesampingkan semua keperluanya menyiapkan aku makan dan perlengakpan bayi, mengantarku ke klinik menyuapi ku, menunggu ku sepanjang hari, mengelus ngelus perut ku yang semakin terasa sakit, mengantar ku kemana pun aku mau, dia berjaga sendiri sepanjang waktu sampai terkantuk kantuk, ia yang terus tanpa bosan membisik ku supaya aku terus terkendali.

Sampai akhirnya kondisi ku mulai mengkhawatirkan pihak klinik segera merujuk ku untuk ke rumah sakit dini hari, ia pula yang langsung pergi mengambil mobil dan mengantarkan aku yang sudah mulai berdarah di sana sini, ohoho begini ternyata rasa nya melahirkan itu terlebih ini momen melahirkan pertama tanpa di dampingi Ibuk, Ayah dan Suami, luar biasa mengesankan, seperti saat Maryam akan melahirkan Isa, Allah kirimkan Jibril sebagai penolong, untuk ku Allah kirimkan Iim sebagai penolong, terimakasih ya Allah :”).

Di rumah sakit kami hanya berdua, aku memang tak ingin ditemani banyak orang karena itu membuat ku merasa tidak nyaman, aku hanya akan nyaman bersama orang yang betul betul aku percaya dan tidak akan mengkhianati kepercayaan ku. Ia masih setia menunggui ku di bangsal rumah sakit, sambil mengelus perut ku dan mengingatkan ku untuk tetap terkendali, memaksa ku makan walaupun sama sekali sudah tak selera makan walaupun sesungguhnya lapar, lemas lunglai menahan sakit yang tiada tara akhirnya datanglah suami ku di saat saat genting, rasanya kekuatanku semakin bertambah.

Benar kata Ibuku bahwa setiap bayi memang punya waktu dan tempat lahirnya masing-masing, tak lama berselang setelah suami ku datang proses pembukaan terus bergerak cepat hingga akhirnya selepas waktu zhuhur putri pertama ku yang ku beri nama Quinntaqia Zukhrufa Kalashnikova terlahir dengan sehat, selamat tak kurang satu apapun. Momen kontraksi yang menyakitkan selama sehari semalam itu terbayar sudah karena Quin keluar dengan sangat mudah hanya 3 kali mengeden tak sampai 5 menit.

Adik ku sempat was was khawatir aku tak selamat karena sepanjang malam tak ada nafsu makan saking tidak nyaman nya perut yang berkontraksi, ia khawatir jika aku tak cukup kuat menjalani proses melahirkan ini, dan ternyata tak terlalu banyak drama untuk mengeluarkan lil quin, dan entah mengapa rasanya biasa saja, aku tak merasakan sakit kecuali terakhir saat proses penjahitan.

Gambar 1. Quin umur 4 jam.

Apa yang kamu rasakan jika ada seseorang yang berani melawan rasa takut nya demi dirimu? itu sungguh mengharukan, itulah yang dilakukan oleh adik ku, pada saat pertama kali memasuki ruang bersalin dimana suara-suara kesakitan dari para Ibu yang sedang mempertaruhkan nyawa demi melahirkan putra putri tercinta nya, ia menangis tak sanggup namun ia terus menguatkan diri demi bisa terus mendampingi dan menjaga keselamatan ku.

Aku jadi teringat pesan dari penggalan film Himura Kenshin, bahwa keberanian seseorang itu akan muncul saat ada orang lain yang harus di lindungi, dan aku melihatnya nyata terjadi pada adik ku ini, dia melawan ketakutanya demi bisa terus mendampingi aku. aku merasa berharga untuk nya, ah terimakasih adikku begitupun engkau 😃. Hingga sampai bayiku telah lahir ditengah kesibukanya berkarya ia masih selalu menyempatkan membantu ku setiap hari, menemani ku begadang setiap malam, mengasuh bayi ku, memandikanya, menggantikan baju dan popok nya disaat aku masih dalam tahap recovery.

Menyaksikan ini ingatan ku melayang pada ingatan 20 tahun lalu, anak yang aku ikut mengasuh nya, memandikanya, menyuapinya, mengajaknya bermain setiap hari, kini ia melakukan hal yang sama pada anak ku. Allah telah membalaskan ketulusan dengan ketulusan, keikhlasan dengan keikhlasan tanpa harus di minta. Indah nya rencana Allah, maka nikmat yang mana lagi yang aku dustakan dari Allah yang Maha Baik ini ;”)

Adikku sampai kapan pun aku tak bisa menggantikan ketulusan dan kepedulian mu itu, Aku hanya bisa menyisipkan doa-doa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat mu, semoga satu saat aku bisa berbuat hal yang sama untuk mu, jika pun jarak munggkin akan jadi pembatas semoga Allah menggantikan ku dengan seseorang yang jauh lebih baik dalam mendampingi masa sulit mu, tetaplah menjadi baik, kamu selalu punya tempat dihati ku 😘.

SHARE
Previous articleGift Terbesar
Next articleRehat
An adventurous mom who loves to write inspiring content A biologist who enjoys adventuring in nature rather than using the lab coat I go to the nature to contemplate the life and return to share inspiring story Welcome to my heart and mind, happy reading all of you !