Puding Kelapa Di Ujung Senja, Mengenang Jejak Pertama Di Tanah Sumbawa

0
129
Spread the love

Aku melihat ia di ujung senja di depan rumah nya yang lebih tepat disebut kandang, hidung nya bangir kulitnya kecoklatan dan rambut nya sedikit ikal di kuncir kebelakang khas sekali wajah Indonesia timur, dia melambai pada ku dan tersenyum manis sekali.

Tempat itu yang nun jauh di sana memahamkan ku arti ketulusan dan penghargaan yang sesungguhnya. aku masih mengingat semua detil nya dengan jelas di kepala, ya aku terkesan sekaligus haru saat tenaga ku tersisa satu-satu lelah menumpuk disekujur tubuh kaki ku melepuh setelah aku menuruni hutan gunung purba yang kabar nya dulu pernah meletus dan mengguncang dunia serta memakan banyak sekali korban.

Lapar haus letih dan bekal ku telah habis ditambah gelap yang makin pekat memang disana jelang malam suasana langsung berubah menjadi gelap dan sunyi aku pun singgah di bangunan kosong sebelah untuk beristirahat, sekedar menyelonjorkan kaki dan mengumpulkan tenaga rapi rasanya aku tak sanggup jika harus melanjutkan pejalalan malam ini, aku memutuskan menginap disini.

Sedang asik asiknya menikmati istirahat tiba tiba ia datang dalam gelap dengan membawa oncor ia dengan dua buah piring berisi puding kelapa coklat, dan penganan lain khas daerah sana dengan cepat ia meletakanya nya di samping ku lalu bergegas pergi tak lama kembali dengan membawa beberapa gelas teh hangat manis. Aku kaget terperangah siapa ia? aku tak mengenal nya kecuali hanya tadi ia sempat melambai dan tersenyum di depan rumah nya, sekarang ia berucap sesuatu kata yang aku tak mengerti yang singkat mungkin artinya silahkan dimakan sambil tersenyum malu malu lalu kembali pulang.

Tak banyak kata yang ia ucapkan kan dia sungguh pemalu namun aku bisa menangkap dengan jelas wajah nya penuh dengan ketulusan yang membuat makanan dan minuman yang ia sajikan semakin terasa nikmat dan menghangatkan hati ku. Sepiring puding coklat, teh manis hangat di akhir senja itu meluluhlantak-kan kalbu ku membuat nalar ku berpikir keras di tempat terpencil ini aku disuguhkan hidangan yang sungguh luar biasa untuk ukuran masyarakat sini, dimana ia mendapatkan nya? yang ku tahu pasar di daerah sini masih sangat jauh, tempat ini jauh dari apapun.

Ya dia telah mengeluarkan persediaan berharga nya yang mungkin akan ia keluarlan di hari istimewa demi untuk menjamu ku, seorang yang tak dikenal nya aku menduga duga barangkali dia mengetahui kedatanganku karena sebelum aku mendaki gunung itu aku melewati gubuk yang ternyata adalah rumah nya dia pun juga bisa memprediksi bahwa aku akan kemalaman, kehabisan bekal dan kendaraan untuk di tumpangi menuju pusat kota yang memakan waktu sehari semalam itu, dia sungguh hafal situasi di sini.

Itu adalah bangunan terakhir dan hanya satu satunya sebelum memasuki hutan rimba yang tanpa pelita selain cahaya bulan yang meng intip intip dibalik rerimbunan pepohonan. Tapi sungguh disayangkan keesokan hari nya saat aku bersiap menuju pusat kota dengan bus yang hanya ada sehari dua kali itu aku tak bisa bertemu ia untuk mengembalikan piring dan gelas. Ia sudah pergi mungkin ke hutan atau ke ladang.

Bus tak akan menanti ku, aku harus segera beranjak untuk bisa mendapatkan tempat duduk, jika terlambat sedikit saja maka aku akan duduk bersama dengan ayam dan kambing di bagian belakang bus dalam sehari semalam. Dengan berat hati aku berpaling dari pintu gubuk yang tertutup itu, aku melangkah semakin menjauh ada yang mengalir di sudut-sudut mata hangat membasahi pipi ku, bahkan aku belum mengenal nama nya. Di dalam bus di jok paling belakang dengan diiringi lagu dangdut yang diputar pak supir aku mengikrarkan janji bahwa aku akan kembali lagi untuk berterima kasih dan menanyakan nama nya.

Satu tahun berlalu ternyata aku sanggup memenuhi janji ku, perjalanan kali ini lebih mudah dibanding sebelumnya karena aku sudah lumayan kenal dengan wilayah itu. Dalam tas ransel aku membawa bingkisan khusus untuk diri nya dan anak anak nya beberapa buku dan alat peraga untuk belajar bahasa Indonesia, aku ingin bisa berbicara dengan mereka. Perjalanan jauh ini kembali aku tempuh dengan niat dan semangat yang membuncah aku ingin bertemu lagi. Jalan setapak menuju batas hutan rimba kembali aku lewati tak ada tang berubah semua nya masih sama, semakin dekat aku semakan bersemangat karena aku bisa kembali membalas ketulusan nya dengan sedikit bingkisan ini.

Namun tiba tiba perasaan ku menjadi ragu demi melihat sekitar rumput semakin meninggi dan semak belukar mendominasi sampai akhirnya aku kembali tiba melihat gubuk itu, sepi terkunci tak ada siapapun gubuk ini sudah lama tak ditinggali melihat sarang laba laba melintang disana sini seketika aku terduduk tak seperti ini yang aku harapkan. Aku terisak dalam hati ku keluarkan bungkisan di antara ku gantung digagang pintu dan kutuliskan sebuah catatan kecil tang entah ini akan sampai kepada mereka atau tidak yang aku juga tak yakin apa mereka mengerti apa yang aku tuliskan.

Untuk pemilik senyum hangat nan manis aku sampaikan terimakasih atas sepiring puding coklat kelapa dan segelas teh manis hangat yang kau sajikan untuk ku, aku berdoa pada Tuhan semoga lain waktu kita bisa berjumpa kembali. 
Dari Aku yang mengagumi ketulusan mu, nama ku LH.Dini

Sejurus kemudian aku beranjak pergi meninggalkan tempat itu dengan sedih yang kusimpan sendiri di dalam hati dengan doa yang selalu aku ucapkan kan pada Tuhan dengan tak putus putus nya, semoga kita bisa berjumpa kembali sahabat tanpa nama.

SHARE
Next articleCanyoning, BeATStreet Adrenaline Versi Gue
An adventurous mom who loves to write inspiring content A biologist who enjoys adventuring in nature rather than using the lab coat I go to the nature to contemplate the life and return to share inspiring story Welcome to my heart and mind, happy reading all of you !