Picture Courtesy of Google
Spread the love

Yo yo pagi guys, maafkeun kalau bagian 2 baru sempat ditulis sekarang, karena you know lah jadi new mom yang bayi nya selalu pengen ikut nimbrung sama apa yang lagi dikerjain ibu nya tuh gak mudah untuk konsentrasi menulis sambil nginget-nginget ;D. Mau nulisnya ditarget pun ga akan sesuai rencana karena udah pasti buat saya anak adalah prioritas pertama untuk diperhatikan jadi nulis nya sambung menyambung bagai rel kereta ha ha. So harap maklum dan bersabar ya. Lets cekidot for second chapter.

Sebaiknya baca dulu 7 Malam Di Tempat Persinggahan Para Dewa, Mengenal Lebih Dekat Kehidupan Masyarakat Dataran Tinggi Dieng ( Bagian 1)

Sembungan, Desa Tertinggi Di Pulau Jawa

Agak lupa tepatnya hari ke berapa di Dieng, sekitar jam setengah 6 pagi saya diantarkan oleh Ale salah satu teman dari Bakal Adventure untuk hunting sunrise di Bukit Sikunir. Jam segitu mau hunting apa ha ha, tapi kata Ale gapapa kelewatan golden sunrise masih ada silver sunrise yang bisa dilihat, juga ada Telaga Cebongan yang bisa dinikmati pemandangan nya plus 7 puncak pegunungan diantara lautan awan.

Penampakan Telaga Cebongan dari Bukit Sikunir. Picture Courtesy of Google

Dasar udah biasa digunung Ale ga menyarankan banyak persiapan cuma bilang mau cari snack dulu sama air mineral. Jadilah bekalnya cuma bawa 3 bolu biskuat sama 2 bungkus kecil kacang atom plus sebotol air, wagelaseeh spartaaan ;D. Dan doi bilang ga usah pake sarung tangan dll lebay itu kayak turis aja wkwk, tapi ternyata baru 15 menit perjalanan naik motor ya Allah ampuuun dingin bangeeet, saya yang gapake sarung tangan dan kaos kaki merengket kedinginan kena angin kencang karena Ale ngendarain motor nya secepat kilat, berusaha sekuat tenaga nahan dingin tapi akhirnya melambaikan bendera putih menyerah sama dingin-nya udara pagi Dieng di puncak musim panas itu. Antara yakin ga yakin apa saya bakalan kuat kondisi nya begini masih juga di jalan raya belum sampai puncak Sikunir kaya gimana lagi dinginya tanpa kaos kaki dan sarung tangan. Syukurnya ada 1 toko yang udah buka menjual syal, kaos kaki dan sarung tangan selamat lah kulit dari kebekuan.

Ale si spartan, kawan dari Bakal Adventure yang mendampingi perjalanan. Picture Courtesy of LH.Dini

Masih dengan ritme ngebutnya Ale, akhirnya setelah sekitar 15 menit sampai juga dipintu gerbang Desa Sembungan yang menjadi desa bukit Sikunir itu berada. Desa Sembungan juga dinobatkan sebagai desa tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 2.260 meter diatas permukaan laut atau sekitar 6780 kaki hampir menyamai ketinggian Ranu Kumbolo di Semeru. Kalian bisa lihat penobatan itu dituliskan tepat di bagian atas gapura masuk, setelah memasuki gapura mulai tampak pemukiman peduduk yang semakin didekati semakin bertambah padat. Banyak warga desa yang manfaatkan rumah nya untuk tempat menginap ini bisa kalian lihat kalau nanti berkunjung kesini banyak plang penginapan di depan rumah mereka.

Gapura masuk Desa Sembungan, desa tertinggi di pulau Jawa. Source

Dari riwayat cerita yang saya dengar nama Sembungan berasal dari nama tanaman Sembung yang mendominasi tumbuhan disekitar wilayah tersebut. Dulu awal berdiri resmi-nya desa ini di tahun 1936 merupakan wilayah yang mengalami kesulitan ekonomi lalu entah siapa yang mengawali warga desa kemudian mengolah lahan untuk di tanami kentang dan wortel yang akhirnya keduanya menjadi komoditi utama yang sanggup memutar roda perekonomian warga setempat. Seiring waktu warga mencoba menambah komoditi tanam diantara nya tanaman Purwaceng yang biasa dijadikan jamu dan penghangat, terong belanda yang bisa dijadikan minuman dan pepaya gunung yang menjadi salah satu kekhasan Dieng dan familiar disebut dengan buah carica. Kesemua komoditi tanaman ini sekarang menjadi bahan oleh-oleh khas Dieng yang bisa dibeli oleh pengunjung di toko oleh-oleh yang tersebar di sana.

Lahan pertanian di Desa Sembungan. Source.

Saya harus berterima kasih sebesar-besar nya kepada rekan-rekan Bakal Adventure karena dengan pendampingan mereka selama di Dieng saya tidak pernah sekalipun ditariki biaya masuk termasuk ketika memasuki wilayah Telaga Cebongan dan Bukit Sikunir ini. Saat mulai mendaki Ale bilang tidak usah terlalu banyak istirahat karena dijalanan pun sudah ramai orang jadi dia meminta saya menaikan ritme jalan (hahaha kebiasaan marathon nya kambuh -_-). Walaupun sempat ngos-ngosan saya cukup mampu menyamai cepatnya langkah kaki Ale sehingga untuk mencapai ke puncak bukit saja hanya butuh waktu sekitar 15 menit mantap jiwa hahahah.

Kesan nya gimana waktu tiba di puncak Sikunir?

Akhirnya tiba di puncak Sikunir. Di fotoin Ale, nasib kang foto motoin orang bagus giliran dipotoin orang yaudah terima aja jadinya hahaha.
Pemandangan puncak-puncak gunung di Jawa dari puncak Sikunir. Source

Di puncak bayangan ramai  sekali, tapi beruntung nya saya masih bisa menemukan spot yang lebih sepi yang membuat saya bisa memandangi Silver Sunrise dan Telaga Cebongan yang utuh dari puncak tertinggi Sikunir. Pemandangan yang cukup memukau adalah banyak nya gumpalan awan dengan jarak begitu dekat serta terlihat nya barisan 7 puncak gunung yang sebagian besar sudah saya daki sebelumnya, duduk berdiam sambil memandangi awan yang begitu dekat serta puncak-puncak gunung yang tampak didepan membuat saya jadi bernostalgia dengan masa-masa pendakian nya sungguh mengesankan ;D.

Carica, Buah Khas Yang Memutar Roda Perekonomian Dieng

Sempat saya singgung sedikit diatas tentang buah Carica yang memiliki nama latin  Carica pubescens  atau  Carica candamarcensis, melalui info ensiklo.com sejarah asal muasal tanaman ini adalah dari daratan Amerika Selatan, yang awalnya didatangkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, yaitu sekitar tahun 1890 atau akhir abad ke-19. Selain merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan dataran Andes, yaitu dataran tinggi yang membentang antara Panama hingga Bolivia, carica juga tumbuh subur di beberapa pegunungan Kolombia ataupun Ekuador. Selanjutnya selain dikembangkan di dataran tinggi Dieng, ada upaya para ahli untuk mengembangkannya di daerah lain di Nusantara, hanya saja sampai saat ini baru area dataran Ranupane yang bisa dijadikan tempat pengembangannya.

Carica si buah Pepaya Gunung tumbuhan khas memutar roda perekonomian penduduk Dieng

Bagi kalian yang pernah berkunjung ke Dieng pasti akan banyak melihat buah-buah ini dijajakan baik di pinggiran jalan ataupun di toko oleh-oleh yang banyak tersebar disana. Ada yang dijual per-cup ada juga yang sudah paketan dalam jumlah banyak. Saya sempat membeli Carica eceran saat kali kedua ke Dieng tahun 2015 harga nya waktu itu masih 3000/cup, rasanya dingin dan segar tidak perlu masuk lemari pendingin karena dijajakan dipinggiran jalan mudah tersapu hawa dingin Dieng. Kabar-nya buah Carica ini juga menjadi usaha kawan-kawan Bakal Adventure untuk menambah pemasukan komunitas selain melalui usaha guiding, semoga semakin sukses ya usaha nya teman-teman Bakal Adventure juga masyarakat Dieng.

Kesenian Lengger

Lengger adalah salah satu kesenian Khas Dieng yang hampir bisa dipastikan selalu ada di setiap acara-acara pekan budaya di area Dieng Plateau.Tari Lengger ini merupakan tari yang diiringi oleh musik tradisional Gamelan, Ditarikan Oleh sekelompok orang terdiri pria dan wanita dimana sang pria mengenakan pakaian tradisional berupa Ebeg, Jarik (kain khas Jawa) sepaha dengan Sumping di kepala.  Sementara sang wanita biasanya menggunakan Jarik yang melapisi tubuh sampai mata kaki, selendang, kemben serta mahkota. Kedua penari baik pria maupun wanita mengenakan topeng yang menggambarkan tokoh-tokoh yang ditarikan, sehingga tari Lengger pun sangat identik dengan sebutan tari topeng. Awal munculnya tarian Lengger ini erat kaitan-nya dengan masa pemerintahan Prabu Wijaya di era Kerajaan Kediri. Oleh sebab itu tarian Lengger pun berkisah tentang drama percintaan Putri Prabu Wijaya yang bernama Putri Sekar Taji dengan Panji Asmoro Bangun. Barangkali dari kalian ada yang pernah mendengar kisah ini dipelajaran sejarah Indonesia.

Tari topeng Lengger tarian khas Dieng. Source

Saya sendiri 2 kali menyaksikan langsung tarian Lengger ini saat kembali ke rumah Irfan karena ingin mendengar cerita-cerita lain tentang Dieng versi Irfan. Pertama kali tahu tarian Lengger ini juga dari obrolan ringan dengan Irfan, katanya di dusun Kejajar tempat tinggal nya sedang ada orang hajatan yang nanggap Lengger dan itu adalah budaya khas Dieng. Dia bercerita bahwa ada magic-magic dalam tarian Lengger, pada awal-awal tarian di mulai ketua sanggar nya akan memantrai-mantrai topeng-topeng yang akan dipakai untuk menari khusus-nya untuk topeng yang digunakan penari pria. Topeng-topeng yang sudah dimantrai itu akan mengambil alih kesadaran sang penari (baca: kerasukan) dan membuat nya bisa menari dengan berbagai macam gerakan binatang. Biasanya gerakan yang ditirukan adalah gerakan monyet dan harimau, selain itu sang penari pun tampak kehilangan sama sekali rasa sakit, mereka bisa mencambuki diri nya sendiri, tahan menginjak bara api, memakan pecahan beling juga aksi-aksi kekebalan lain-nya.

Macam-macam topeng yang dipakai saat menari Lengger

Semua hal yang diberi tahu Irfan saya saksikan sendiri saat tengah malam gelaran tari tersebut. Irfan bilang memang tari lengger ini sering nya digelar di malam hari dan bisa berakahir ketika menjelang fajar. Pada awal nya saya kurang mengerti jalan cerita tarian-nya tapi setelah banyak membaca literatur di internet akhirnya paham. Irfan sendiri hanya bilang tarian Lengger itu bercerita tentang percintaan ada yang menjadi tokoh ksatria, tokoh penjahat dan tokoh wanita yang diperebutkan. Menurut cerita yang saya konfirmasi dari beberapa penduduk setempat tarian lengger ini kadang dijadikan ajang pesta minuman keras dan asusila yang berujung pada perzinahan terutama kepada penari wanita-nya dan hal ini juga senada dengan beberapa literatur yang saya temukan, namun secara langsung saya belum pernah menyaksikan aktivitas menyimpang itu.

Ada satu tragedi gunung terbelah yang berkaitan dengan pentas Lengger yang akan saya bahasa di chapter terakhir beserta beberapa bahasan keunikan Dieng lain-nya. Mohon bersabar ya kawan-kawan karena perjalanan saya di Dieng cukup panjang, semoga bisa segera menyusul chapter terakhir ;D. Jangan lupa untuk beri like, atau berbagi kisah perjalanan Dieng di kolom komentar ya, terimakasih sudah mampir di blog lhdini.com.

BERSAMBUNG KE BAGIAN 3

Baca juga Kontemplasi Perjalanan LH.Dini Selamat dari Rampok Pelabuhan

 

 

 

 

 

 

Loading Facebook Comments ...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here